Suatu hari, Umar sedang duduk di bawah pohon kurma dekat Masjid Nabawi. Di sekelilingnya, para sahabat sedang asyik mendiskusikan sesuatu.
Tiba-tiba datanglah 3 orang pemuda. Dua pemuda memegangi seorang pemuda lusuh yang diapit oleh mereka.
Ketika sudah berhadapan dengan Umar, kedua pemuda yang ternyata kakak beradik itu berkata :
"Tegakkanlah keadilan untuk kami, wahai Amirul Mukminin!"
"Qishashlah pembunuh ayah kami sebagai had atas kejahatan pemuda ini !".
Umar segera bangkit dan berkata :
"Bertakwalah kepada Allah, benarkah engkau membunuh ayah mereka, wahai anak muda?"
Pemuda lusuh itu menunduk sesal dan berkata :
"Benar, wahai Amirul Mukminin."
"Ceritakanlah kepada kami kejadiannya.", tukas Umar.
Pemuda lusuh itu kemudian memulai ceritanya :
"Aku datang dari pedalaman yang jauh, kaumku memercayakan aku untuk suatu urusan muammalah untuk kuselesaikan di kota ini. Sesampainya aku di kota ini, ku ikat untaku pada sebuah pohon kurma lalu kutinggalkan dia (unta). Begitu kembali, aku sangat terkejut melihat seorang laki-laki tua sedang menyembelih untaku, rupanya untaku terlepas dan merusak kebun yang menjadi milik laki-laki tua itu. Sungguh, aku sangat marah, segera ku cabut pedangku dan kubunuh ia (lelaki tua tadi). Ternyata ia adalah ayah dari kedua pemuda ini."
"Wahai, Amirul Mukminin, kau telah mendengar ceritanya, kami bisa mendatangkan saksi untuk itu.", sambung pemuda yang ayahnya terbunuh.
"Tegakkanlah had Allah atasnya!" timpal yang lain.
Umar tertegun dan bimbang mendengar cerita si pemuda lusuh.
"Sesungguhnya yang kalian tuntut ini pemuda shalih lagi baik budinya. Dia membunuh ayah kalian karena khilaf kemarahan sesaat", ujarnya.
"Izinkan aku, meminta kalian berdua memaafkannya dan akulah yang akan membayarkan diyat (tebusan) atas kematian ayahmu", lanjut Umar.
"Maaf Amirul Mukminin," sergah kedua pemuda masih dengan mata marah menyala,
"Kami sangat menyayangi ayah kami, dan kami tidak akan ridha jika jiwa belum dibalas dengan jiwa".
Umar semakin bimbang, di hatinya telah tumbuh simpati kepada si pemuda lusuh yang dinilainya amanah, jujur, dan bertanggung jawab.
Tiba-tiba si pemuda lusuh berkata :
"Wahai Amirul Mukminin, tegakkanlah hukum Allah, laksanakanlah qishash atasku. Aku ridha dengan ketentuan Allah", ujarnya dengan tegas.
"Namun, izinkan aku menyelesaikan dulu urusan kaumku. Berilah aku tangguh 3 hari. Aku akan kembali untuk diqishash".
"Mana bisa begitu?", ujar kedua pemuda yang ayahnya terbunuh.
"Nak, tak punyakah kau kerabat atau kenalan untuk mengurus urusanmu?", tanya Umar.
"Sayangnya tidak ada, Amirul Mukminin".
"Bagaimana pendapatmu jika aku mati membawa hutang pertanggung jawaban kaumku bersamaku?", pemuda lusuh balik bertanya kepada Umar.
"Baik, aku akan memberimu waktu tiga hari. Tapi harus ada yang mau menjaminmu, agar kamu kembali untuk menepati janji." kata Umar.
"Aku tidak memiliki seorang kerabatpun di sini. Hanya Allah, hanya Allah-lah penjaminku wahai orang-orang beriman", rajuknya.
Tiba-tiba dari belakang kerumunan terdengar suara lantang :
"Jadikan aku penjaminnya, wahai Amirul Mukminin".
Ternyata Salman al-Farisi yang berkata.
"Salman?" hardik Umar marah.
"Kau belum mengenal pemuda ini, Demi Allah, jangan main-main dengan urusan ini".
"Perkenalanku dengannya sama dengan perkenalanmu dengannya, yaa, Umar. Dan aku mempercayainya sebagaimana engkau percaya padanya", jawab Salman tenang.
Akhirnya dengan berat hati, Umar mengizinkan Salman menjadi penjamin si pemuda lusuh. Pemuda itu pun pergi mengurus urusannya.
Hari pertama berakhir tanpa ada tanda-tanda kedatangan si pemuda lusuh. Begitupun hari kedua. Orang-orang mulai bertanya-tanya apakah si pemuda akan kembali. Karena mudah saja jika si pemuda itu menghilang ke negeri yang jauh.
Hari ketiga pun tiba. Orang-orang mulai meragukan kedatangan si pemuda, dan mereka mulai mengkhawatirkan nasib Salman, salah satu sahabat Rasulullah S.A.W. yang paling utama.
Matahari hampir tenggelam, hari mulai berakhir, orang-orang berkumpul untuk menunggu
kedatangan si pemuda lusuh. Umar berjalan mondar-mandir menunjukkan kegelisahannya. Kedua pemuda yang menjadi penggugat kecewa karena keingkaran janji si pemuda lusuh.
Akhirnya tiba waktunya penqishashan. Salman dengan tenang dan penuh ketawakkalan berjalan menuju tempat eksekusi. Hadirin mulai terisak, karena menyaksikan orang hebat seperti Salman akan dikorbankan.
Tiba-tiba di kejauhan ada sesosok bayangan berlari terseok-seok, jatuh, bangkit, kembali jatuh, lalu bangkit kembali.
”Itu dia!” teriak Umar.
“Dia datang menepati janjinya!”.
Dengan tubuhnya bersimbah peluh dan nafas tersengal-sengal, si pemuda itu ambruk di pangkuan Umar.
”Hh..hh.. maafkan.. maafkan.. aku, wahai Amirul Mukminin..” ujarnya dengan susah payah,
“Tak kukira... urusan kaumku... menyita... banyak... waktu...”.
”Kupacu... tungganganku... tanpa henti, hingga... ia sekarat di gurun... Terpaksa... kutinggalkan... lalu aku berlari dari sana..”
”Demi Allah”, ujar Umar menenanginya dan memberinya minum,
“Mengapa kau susah payah kembali? Padahal kau bisa saja kabur dan menghilang?” tanya Umar.
”Aku kembali agar jangan sampai ada yang mengatakan... di kalangan Muslimin... tak ada lagi ksatria... menepati janji...” jawab si pemuda lusuh sambil tersenyum.
Mata Umar berkaca-kaca, sambil menahan haru, lalu ia bertanya :
“Lalu kau, Salman, mengapa mau- maunya kau menjamin orang yang baru saja kau kenal?"
Kemudian Salman menjawab :
" Agar jangan sampai dikatakan, dikalangan Muslimin, tidak ada lagi rasa saling percaya dan mau menanggung beban saudaranya”.
Hadirin mulai banyak yang menahan tangis haru dengan kejadian itu.
”Allahu Akbar!”, Tiba-tiba kedua pemuda penggugat berteriak.
“Saksikanlah wahai kaum Muslimin, bahwa kami telah memaafkan saudara kami itu”.
Semua orang tersentak kaget.
“Kalian...” ujar Umar.
“Apa maksudnya ini? Mengapa kalian..?” Umar semakin haru.
Kemudian dua pemuda menjawab dengan membahana :
”Agar jangan sampai dikatakan, di kalangan Muslimin tidak ada lagi orang yang mau memberi maaf dan sayang kepada saudaranya”.
”Allahu Akbar!” teriak hadirin.
Pecahlah tangis bahagia, haru dan sukacita oleh semua orang.
MasyaAllah..., saya bangga menjadi muslim bersama kita ksatria-ksatria muslim yang memuliakan al islam dengan berbagi pesan nasehatnya untuk berada dijalan-Nya..
25 Juni 2016
24 Juni 2016
Jalaluddin Rumi berkata: "Engkau mengaku telah memuliakan dan mencintai Tuhan. Tetapi mengapa dalam dirimu tdk ada tanda-tanda Sang perindu dan sifat-sifat mulia?"
Kemudian Rumi melanjutkan: "Jika engkau mengaku telah memakan manisan, namun mengapa aroma nafasmu berbau bawang?"
---------------
Begitulah Rumi mengkritik. Banyak orang yg mengaku mencintai Tuhan tapi masih saja menebar kebencian. Mengaku sebagai hamba-Nya yg lemah tapi masih saja menganggap remeh orang lain.
Mengaku sebagai makhluk yg penuh dosa dan hina dina tapi masih saja menganggap dirinya yg paling suci
Banyak orang yg mengaku Islam tapi orang lain masih terganggu dgn tangan dan lidahnya.
Mengaku berakhlak kepada Nabi tapi masih saja berkata kasar dan egois. Mengaku sering berwudhu tapi masih cepat marah.
Mengakui bahwa hanya Tuhan Yang Maha Benar tapi masih saja menganggap dirinya yg paling benar dan menyalahkan keyakinan orang lain
Mengaku rajin shalat tapi masih saja melakukan perbuatan keji dan mungkar.
Bukankah menghina, menuduh, memfitnah, mengkafirkan, berkata kasar, membenci, menganiaya, cepat marah, tdk sopan, dan lain2 semua itu termasuk perbuatan keji dan mungkar?
Kita kemanakan shalat kita selama ini? Di buang di tong sampah ya? atau dikubur hidup-hidup? Betapa malangnya engkau wahai shalat.
Catatan: Daripada melakukan perbuatan keji, lebih baik makan keju. Daripada melakukan perbuatan mungkar, lebih baik nonton sinetron shiren sungkar.
(Sumber: https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10203571451157893&id=1563621077&refid=17&_ft_=top_level_post_id.10200142642365635%3Atl_objid.10203571451157893%3Athid.1738191433%3A306061129499414%3A10%3A1420099200%3A1451635199%3A-3639521281797894752&__tn__=%2As)
23 Juni 2016
Syeikh Jumadil Kubro merupakan tokoh kunci proses Islamisasi tanah Jawa yang hidup sebelum walisongo. Seorang penyebar Islam pertama yang mampu menembus dinding kebesaran Kerajaan Majapahit. Syeikh Jumadil Kubro bernama lengkap Syeikh Jamaluddin al-Husain al-Akbar. Beliau adalah cucu ke-18 Rasulullah Muhammad SAW dari garis Syyidah Fatimah Az Zahrah al-Battul. Ayahnya bernama Syeikh Jalal yang karena kemuliaan akhlaknya mampu meredam pertikaian Raja Campa dengan rakyatnya. Sehingga, Syeikh Jalal diangkat sebagai raja dan penguasa yang memimpin Negara Campa.Syeikh Jamaluddin tumbuh dan berkembang di bawah asuhan ayahnya sendiri. Setelah dewasa, beliau mengembara ke negeri neneknya di Hadramaut. Di sana beliau belajar dan mendalami beragam ilmu dari beberapa ulama yang terkenal di zamannya. Bahkan keilmuan yang beliau pelajari meliputi Ilmu Syari’ah dan Tasawwuf, di samping ilmu-ilmu yang lain.
Selanjutnya, beliau melanjutkan pengembaraannya dalam rangka mencari ilmu dan terus beribadah ke Mekkah dan Madinah. Tujuannya adalah mendalami beragam keilmuan, terutama ilmu Islam yang sangat variatif. Setelah sekian lama belajar dari berbagai ulama terkemuka, kemudian beliau pergi menuju Gujarat untuk berdakwah dengan jalur perdagangan. Melalui jaringan perdagangan itulah beliau bergumul dengan ulama lainnya yang juga menyebarkan Islam di Jawa.
Kemudian beliau dakwah bersama para ulama’ termasuk para putra-putri dan santrinya menuju tanah Jawa. Mereka menggunakan tiga kendaraan laut, sekaligus terbagi dalam tiga kelompok dakwah. Kelompok pertama dipimpin Syeikh Jumadil Kubro memasuki tanah Jawa melalui Semarang dan singgah beberapa waktu di Demak. Selanjutnya perjalanan menuju Majapahit dan berdiam di sebuah desa kecil bernama Trowulan yang berada di dekat kerajaan Majapahit. Kemudian jamaah tersebut membangun sejumlah padepokan untuk mendidik dan mengajarkan beragam ilmu kepada siapa saja yang hendak mendalami ilmu keislaman.
Kelompok kedua, terdapat cucunya yang bernama al-Imam Ja’far Ibrahim Ibn Barkat Zainal Abidin dibantu saudaranya yakni MalikIbrahim menuju kota Gresik. Dan kelompok ketiga adalah jamaah yang dipimpin putranya yakni al-Imam al-Qutb Sayyid Ibrahim Asmoro Qondy menuju Tuban. Namanya masyhur dengan sebutan “Pandhito Ratu” karena beliau memperoleh Ilmu Kasyf (transparansi dan keserba jelasan ilmu/ilmu yang sulit dipahami orang awam, beliau diberi kelebihan memahaminya).
Perjalanan dakwah Syeikh Jumadil Kubro berakhir di Trowulan, Mojokerto. Beliau wafat tahun 1376 M, 15 Muharram 797 H. diperkirakan hidup di antara dua Raja Majapahit (awal Raja Tribhuwana Wijaya Tunggadewi dan pertengahan Prabu Hayam Wuruk). Bermula dari usul yang diajukan Syeikh Jumadil Kubro kepada penguasa Islam di Turki (Sultan Muhammad I) untuk menyebarkan Agama Islam si wilayah Kerajaan Majapahit. Pada saat itu wilayah Majapahit sangat kuat pengaruh Agama Hindu di samping keyakinan masyarakat pada arwah leluhur dan benda-benda suci. Keberadaannya di tanah Majapahit hingga ajal menjelang menunjukkan perjuangan Sayyid Jumadil Kubro untuk menegakkan Agama Islam melawan penguasa Majapahit sangatlah besar.
Karena pengaruh beliau dalam memberikan pencerahan bekehidupan yang berperadaban, Syeikh Jumadil Kubro dikenal dekat dengan pejabat Kerajaan Majapahit. Cara dakwah yang pelan tapi pasti, menjadikan beliau amat disegani. Tak heran, bila pemakaman beliau berada di antara beberapa pejabat kerajaan di antaranya adalah makam Tumenggung Satim Singgo Moyo, Kenconowungu, Anjasmoro, Sunana Ngudung (ayah Sunan Kudus), dan beberapa patih dan senopati yang dimakamkan bersamanya.
Lokasi kompleks makam ini berdekatan dengan Pendopo Agung Majapahit dan Pusat Informasi Majapahit yang pembangunannya menuai kontroversi. Hal itu karena proses pembangunannya diindikasikan merusak situs-situs peninggalan Majapahit yang diyakini hingga kini masih terkubur di dalam tanah kawasan Trowulan. Sekali dayung, maka semua tujuan napak tilas sejarah Majapahit bisa terpenuhi.
Silsilah::
Sayyid Jumadil Kubro bin Sayyid Zainul Khusen bin Sayyid Zainul Kubro bin Sayyid Zainul Alam bin Sayyid Zainal Zainal Abidin bin Sayyid Khusen bin Siti Fatimah binti Rasulullah Muhammad SAW bin Abdullah bin Abdul Mutholib bin Hasyim bin Abdul Manaf bin Qushoyi bin Kilab bin Murota bin Kaáb bin Luayyi bin Gholib bin Fihri bin Maliki bin Nadri bin Kinana bin Khuzaimah bin Mudrika bin Ilyas bin Mudhoro bin Nizar bin Maad bin Adnan bin Uddi bin Udada bin Mukowami bin Nakhuro bin Tairokhi bin Ya’rub bin Yasjub bin Nabit bin Ismail bin Ibrahim bin Tarokha bin Nakhuro bin Syarukho bin Arghu bin Falakho bin Abaro bin Syalakho bin Arfakhsan bin Sami bin Nukh bin Lamaka bin Mutawaslikh bin Idris bin Yarid bin Mahlail bin Qoinani bin Yanasy bin Syits bin Adam Alaihi Sholatuwassalam.
I. Sayyid Jumadil Kubro dikaruniai tiga putra. Adapun ketiga putra beliau itu adalah :
Sayyid Ibrahim (Ibrahim As-Samarkhandi)
Maulana Iskha’
Sunan Aspadi yang dikawin oleh Raja Rum
II. Sayyid Ibrahim Bin Jumadil Kubro menikah dengan Dewi Candrawulan Binti Raja Kuntoro Chempa mempunyai 2 orang anak :
Sayyid Ali Rahmatullah (Sunan Ampel)
Sayyid Ali Murtadho (Raja Pandhito) R. Santri
III. Maulana Iskhak Bin Jumadil Kubro menikah dengan Raden Ayu Retno Kusumo Binti Raja Mundiwangi Pajajaran mempunyai 2 orang anak :
Sayyid Abdul Qodir atau disebut Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati)
Dewi Saroh (Istri Sunan Kalijogo)
IV. Maulana Iskhak Bin Jumadil Kubro menikah dengan Dewi Sekardadu Binti Prabu Minak Sembuyu Blambangan mempunyai seorang anak bernama : Raden Paku atau (Sunan Giri)
V. Sunan Aspadi tidak diketahui karena berada di Kerajaan Rum
VI. Sayyid Ali Rahmatullah (Sunan Ampel) Bin Sayyid Ibrahim Bin Jumadil Kubro menikah dengan Dewi Candrawati Binti Ariyotejo Adipati Tuban mempunyai 5 orang anak :
Siti Sariáh (Istri Haji Usman) Sunan Manyuran
Siti Mutmainnah (Istri Sayyid Muhsin)
Siti Khofsoh (Istri Sayyid Ahmad)
Sayyid Maqdum Ibrohim (Sunan Bonang)
Raden Qosim (Sunan Drajat)
VII. Sayyid Ali Rahmatullah juga menikah dengan Dewi Karimah Binti Ki Bang Kuning, mempunyai 2 orang anak :
Dewi Murtasimah (Istri Raden Patah)
Dewi Murtasiyah (Istri Sunan Giri)
VIII. Sayyid Ali Murtadho (Raja Pandhito) Raden Santri Bin Sayyid Ibrahim As-Samarkhandi Bin Sayyid Jumadil Kubro menikah dengan Raden Ayu Maduretno Binti Prabu Ariyo Bariben mempunyai 3 orang anak :
Haji Usman (Sunan Manyuran) Mandalika
Usman Haji (Sunan Ngudung)
Nyai Gede Tundo (Istri Sunan Kertoyoso)
IX. Sayyid Abdul Qodir atau disebut Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati) Bin Maulana Iskhak Bin Sayyid Jumadil Kubro menikah dengan Dewi Haisah Binti Raden Jakender (Sunan Malaka) Madura mempunyai 2 orang anak :
Raden Abdul Jalil disebut Syeikh Siti Jenar tidak mau beristri
Dewi Sofiyah (Istri Raden Qosim) Sunan Drajat
X. Sayyid Maqdum Ibrahim (Sunan Bonang) Bin Raden Rahmad (Sunan Ampel) Bin sayyid Ibrahim Bin Sayyid Jumadil Kubro menikah dengan Dewi Hiroh Binti Raden Jakender (juga mertuanya Syarif Hidayatullah) mempunyai seorang anak bernama : Dewi Rukhilah (Istri Sunan Kudus).
XI. Raden Qosim (Sunan Drajat) Bin Raden Rahmad bin sayyid Ibrahim Bin Jumadil Kubro menikah dengan Dewi Sofiyah Binti Sunan Cirebon mempunyai 3 orang anak :
Pangeran Trenggono
Pangeran Sandi
Dewi Rouyan
XII. Haji Usman (Sunan Manyuran) Bin Raja Pandhito Bin sayyid Ibrahim Bin Sayyid Jumadil Kubro menikah dengan Siti Sariah Binti Sunan Ampel mempunyai seorang anak bernama : Amir Khasan
XIII. Usman Haji (Sunan Ngudung) Bin Raja Pandhito Bin Sayyid Ibrahim Bin Jumadil Kubro menikah dengan Dewi Sari Binti Tumenggung Wilatikta mempunyai 2 orang anak :
Dewi Sujinah (Istri Sunan Muria)
Amir Haji (Sayyid Ja’far Sodiq) Sunan Kudus
XIV. Dewi Murtasimah Binti Sunan Ampel Bin Sayyid Ibrahim Bin Jumadil Kubro dinikah oleh Raden Patah Bin Kertawijaya (Brawijaya) mempunyai 5 orang anak :
Pangeran Purbo
Pangeran Trenggono
Raden Bagos Sedokali
Raden Kenduruhan
Dewi Ratih
XV. Nyai Gede Tundo Binti Raja Pandito
XV. Nyai Gede Tundo Binti Raja Pandito Bin Sayyid Ibrahim Bin Sayyid Jumadil Kubro dinikah oleh Khalifah Khusen (Sunan Kertoyoso) Madura mempunyai seorang anak bernama : Khalifah Sughro.
XVI. Siti Mutmainah Binti Sunan Ampel Bin Sayyid Ibrahim Bin Sayyid Jumadil Kubro dinikah oleh Sayyid Muhsin (dari Yaman) beliau adalah murid Sunan Ampel atas perkawinannya mempunyai seorang anak bernama : Amir Khamzah.
XVII. Siti Khofsoh Binti Sunan Ampel Bin sayyid Ibrahim bin Sayyid Jumadil Kubro dinikah Sayyid Ahmad (Sunan Malaka) beliau adalah murid Sunan Ampel, atas perkawinannya tidak mempunyai anak.
XVIII. Raden Paku (Sunan Giri) Bin Maulana Ishak Bin Sayyid Jumadil Kubro kelahiran Blambangan menikah dengan Dewi Murtasiyah Binti Sunan Ampel mempunyai 4 orang anak :
Raden Prabu
Raden Milyani
Raden Kuwo
Dewi Retnowati
XIX. Raden Sahid (Sunan Kalijogo) Bin Raden Sahur Tumenggung Wilatikta. Beliau adalah murid Sunan Ampel, menikah dengan Dewi Saroh Binti Maulana Ishak Bin Sayyid Jumadil Kubro, mempunyai 3 orang anak :
Raden Said (Sunan Muria)
Dewi Rukoiyah
Dewi Sofiyah
XX. Raden Said (Sunan Muria) Bin Raden Sahid (Sunan Kalijogo) menikah dengan Dewi Sujinah Binti Usman Haji (Sunan Ngudung) Bin Raja Pandhito Bin Sayyid Ibrahim Bin Sayyid Jumadil Kubro mempunyai seorang putra bernama : Pangeran Santri (Sunan Kadilangu).
XXI. Raden Amir Haji atau disebut Sayyid Ja’far Sodiq (Sunan Kudus) Bin Usman Haji (sunan Ngudung) Bin Raja Pandhito Bin Sayyid Ibrahim Bin Sayyid Jumadil Kubro menikah dengan Dewi Rukhila Binti Sayyid Maqdum Ibrahim (Sunan Bonang) Bin Sunan Ampel Bin Sayyid Ibrahim Bin Sayyid Jumadil Kubro mempunyai seorang anak bernama : Raden Amir Khasan.
XXII. Raden Sahur Tumenggung Wilatikta (Tuban) menikah dengan Dewi Nawang Arum Binti Ki Ageng Tarup mempunyai 2 orang anak :
Dewi Sari (Istri Sunan Ngudung)
Raden Sahid (Sunan Kalijogo)
XXIII. Raden Jakender (Sunan Malaka) Madura menikah dengan Dewi Nawang Sari Binti Ki Ageng Tarup mempunyai 2 orang anak :
Dewi Hisah (Istri Sunan Gunung Jati)
Dewi Hiroh (Istri Sunan Bonang)
XXIV. Prabu Kertawijaya (Brawijaya I) mempunyai istri banyak dan anaknya juga banyak sekali, namun yang terkenal dari istri Chempa mempunyai 3 orang anak :
Prabu Hadi (Istri Adipati Doyoningrat)
Lembu Peteng Madura
Raden Kukur
Dari istri Ponorogo mempunyai anak :
Betoro Katong (Ponorogo)
Ariyodamar (Adipati Palembang)
Dari istri Chempo yang lain mempunyai anak bernama : Raden Husen (Raden Patah) yang mendirikan kerajaan Islam Demak.
Dari istri dari Bakilen mempunyai anak bernama : Jaran Panoleh di Sampang Madura


'Athfata yaa jiirotal'alami
Ya uhailaljuudi walkaromi
Kelawan muji marang Pengeran
Kang paring rahmat lan kenikmatan
Rino wengi tanpo pitungan
Seneng ngafirke marang liyane
Kafire dhewe gak digatekke
Yen iseh kotor ati akale
Wajibe ngaji sak pranatane
Nggo ngandelake iman tauhide
Baguse sangu mulyo matine
Tanpo tinulis iso diwoco
Iku wejangane guru waskito
Den tancepake ing njero dodo
Kudu rangkulan rino lan wengi
Ditirakati diriyadhohi
Dzikir lan suluk jo nganti lali
Kang podo rukun ojo ngesiyo
Iku sunnahe rasul kang mulyo
Nabi Muhammad panutan kito
Ora kesasar roh lan sukmane
Den gadang Allah suwargo manggone
Utuh mayite ugo ulese

وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَا للَّهُ أَكْبَرْ ..
لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ ..بِا للَّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمْ.
آمَنْتُ بِا للَّهِ وَمَلاَئِكَتِهِ (اللّه)وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ ..، وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَبِالْقَدَرِ خَيْرِهِ .. وَشَرِّهِ مِنَ ا للَّهِ تَعَالَى..
عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ
يَا رَفِيْعَ الشَّانِ وَ-نِ وَالدَّرَج ِ
Rukunipun iman wajib den weruhi
Nenem cacahe bejo wong kang meruhi
(1)Siji ngandel wujude Alloh tan mamang
Dzat kang gawe kabeh mahluq tanpo rewang
Kabeh mahluq bakal sowan mring pengeran
Kaprikso olo becik lakuning badan
Panca ndriyo limo matur ijen-ijen
Datan biso gorohake ing pendangon
(2)Loro ngimanaken malaekate Alloh
Den titahake ngibadah mring dzate Alloh
Malaekat tanpo romo ibu sami
Moho nuce-ake Alloh rino wengi
Lan kang ngrekso kabeh mahluq langit bumi
Nyuwunake kabejan mring jalmo sami
Lan kang dadi duta nurunke rejeqi
Sekehe leloro sepadane gonta-ganti
(3)Telu ngimanake mring kitabe Alloh
Den turunke mring utusane Alloh
Nabi dawud katurunan kitab Zabur
Musa katurunan Toret nggo pitutur
Nabi Isa ngasto Injil keparingan
Njeng nabi Muhamad keparingan Qur'an
Kitab Qur'an mujizat kang dantan lawan
Nyapengati mring jin serto insan
Supangate Rosul kaungkulan Qur'an
Mulo bejo wong kang nderek dawuh Qur'an
Moco Qur'an toto kromo bener mapan
Supangate Qur'an ngunggahake izinan
Poro mahluq biso seneng sarto mapan
Biso mangan ngumbe ugo berkah Qur'an
(4)Papat ngimanaken mring utusane Alloh
Rosul temen neka-ake dawuhe Alloh
Alloh ngutus mring utusan kanggo conto
Mring kito poro menungso kelawan nyoto
Lan kang dadi obor jagat ingkang roto
Sirnane utusan kito rusak lampah kito
(5)Limo ngimanake dinone Qiyamat
Dinone pungkasan ingkang lamat-lamat
Bintang-rembulan bumi langit ajur bentusan
Sirno ilang datan katon manungso kewan
Poro mahluq sirno datan urip katon
Sa'liyane Alloh dzat kang noto lelakon
Sa' banjure bumi ngetoke simpenan
Metu saking kubur koyo wong kranjingan
Tangi saking kubur bingung pating blulung
Sambat njaluk tulung tan ono wongkang biso nulung
Bapak biyung lali anak lali kadang
Lali ngorat banget susah-e lan wirang
Wotsirotol mustaqim lembut landep (rumbil) gonjang ganjing
Yen ra-oleh pitulung nyemplung neroko manjing
(6)Nenem ngimanake pestene pengeran
Neroko suwargo pugkasan ono tenan
Pesten wongkang angas mampang mring-da wuh Qur'an
Den ancam neroko langgeng tan pungkasan
Pesten wongkang nderek dawuh(e) Alloh lan utusan
Den ebang suwargo widodari wildan
Nyuwun kulo mring Alloh kang sifat Rohman
Nitipno ing kito telogo poan
Mugi ngrekso ing.. kito duh.. pengeran
Sikso neroo..ko kubur-pitakonan
Mugi nglebet..no.. ingkito kempal mu'min
Lumebet ing suwargo Amin ya Amin

Eling –eling wong urip bakale mati..
Ojo bungah maring dunyo mulyo mukti
Luru ngelmu wong ngibadah ingkang ngerti..
Murih ngamal wiwit urip tumeko mati
Wajib pasrah wong ngandel maring pengeran
Sarto nderek marang nabi kang pungkasan
Rukune islam iku limang perkoro.
(1) Ingkang dingin ngucapaken sahadat loro
(2) Kaping pindo manjing wektu kudu solat
(3) Kaping telu lamon sugih aweh zakat
(4) Kaping papat puoso wulan romadhon
(5) Kaping limo munggah haji lamon kuwoso.

Sopo wonge wani ninggalake solat
Titenono yen siro lagi sekarat
Lara banget nganti ora biso sambat
Ditekani pirang – pirang malaikat
Sa' wuse mati di.. kubur ditinggal lungo
Ditekani malaikat ingkang loro
Malaikat teko nggowo alat sikso
Mulo ngati – ati urip ning alam ndunyo
لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ..
إِلاَّ بِا للَّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمْ....، إِلاَّ بِا للَّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمْ
Mboten wonten doyo lan mboten kiyat
Mboten wonten doyo lan mboten kiyat
Kejawi angsal pitu..lunge ..Alloh
Kejawi angsal pitu..lunge ..Alloh
Sifate Alloh kang moho luhur
Sifate Alloh kang moho luhur
Sifate Alloh kang moho Agung
Sifate Alloh kang moho Agung
Gusti kanjeng nabi, lahire ono ing mekkah..,
dinten isnen tanggal rolas tahun gajah..,
ingkang ibu asmane siti aminah ..,
ingkang romo asmane sayyid Ngabdulloh.
Kanjeng Nabi Muhammad ora tahu ingimpi olo
مِنْهُ الدَّوَابُ فَلَمْ تَهْرَبْ وَمَا وَقَعَتْ
Gegremetan ora podo mlayu maring njeng nabi
بِخَلْفِهِ كَأَمَامٍ رُؤْيَةً ثَبَتَا
Podo wae priksaan mburi karo ngarepan
وَقَلْبُهُ لَمْ يَنَمْ وَالْعَيْنُ قَدْ نَعَسَتْ
Lan penggalihe ora sa-re tapi peningale
كَتْفَاهُ قَدْ عَلَتَا قَوْمًا إِذَاجَلَسُوْا
Lan pundak lorone ngunggu-li wong le-lenggahan
هَذِه الَخَصَائِصُ فَاحْفَظْهَا تَكُنْ أَمِنَ
Iki khosi-at rolas ayo podo den apalno
وَعَجِّلُوْا ..وَعَجِّلُوْا ..بِالتَّوْبَةِ قَبْلَ الْمَوْت
Age age ayo Sholat.. mumpung durung ente'k wektune..
Age age ayo Taubat.. mumpung durung ke'tekan patine..

He sedulur sa uwise ono azdan
ojo podo katungkul omong-omongan,
enggal enggal podo wudu terus dandan,
mlebu mesjid lakonono kesunatan,
solat sunat ojo nganti ketinggalan
nunggu imam sinambi puji-pujian,
imam teko dikomati terus sembayang,
bar sembayang ojogiri bubar durung wiridan.
Abu bakar sohabat nabi
Umar usman sayyidina ngali .
Poro putro diwulang ngaji yen mboten saged pasrah pak kyai
Ngaji qur'an, kitab, berzanji yen mboten saged tentune rugi..
Rugi ndunyo ora dadi opo rugi akherat bakal ciliko
Ono ing kubur bakal disikso
Mungkar nakir kang bakal nyikso…
وَكُنُوْا عَوْنَنَالِلَّهْ..عَسَى نَحْظَى بِأَجْلِ اللَّهْ
Wiwit cilik diwulang ngaji
Besuk gede dadi wong aji
Ngaji iku okeh ragade
Ojo eman marang sangune
Suwe suwe mesti biso
Ayo konco neng madrasah
Papan ngaji Bocah –bocah
لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ رَبُّ الْعاَ لَمِيْن
اَسْتَغْفِرُاللَّهَ الْعَظِيمْ اِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمْ
Sekathahe duso kulo
Duso agung kelawan ingkang alit
Mboten wonten ingkang saged ngapuro 2x
Sanesipun Tuhan kang moho agung
Kang ngratoni sekathahe poro ratu
Nggih meniko Alloh asmane 2x
Kang kagungan sifat Rohman
Kang kagungan sifat Rokhim
اَللَّهُـمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلىَ.. اَللَّهُـمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلىَ..
سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَّ عَلىَ آلِهِ مُحَمَّدْ
Gusti Alloh mugi muwuhi Rohmat 2x
Dumateng kanjeng nabi Muhammad
Soho dateng kawulo warganipun
لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ .. لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ
لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ ..إِلاَّ بِا للَّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمْ
لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهْ.. لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهْ..
مُحَمَّدٌ رَّسُوْلُ اللَّهْ.. صَلَّ اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ
أَسْتَغْفِرُاللَّهْ.. رَبَّ الْبَرَايَا
أَسْتَغْفِرُاللَّهْ.. مِنَ الْخَطَايَا
رَبّـِيْ زِدْنِيْ عِلْمًا نَافِعَا..
وَوَافِقْنِيْ عَمَلاً صَالِحَا..
وَأَغْنِيْ رِزْقًا حَلَلاَ..
وَأكْتُبْ عَلَيْنَا تَوْبَةً نَصُوْحَا..
وَأكْتُبْ عَلَيْنَا تَوْبَةً نَصُوْحَا..
يَاحَنَّانُ يَامَنَّانُ يَادَيَّانُ يَاسُلْطَانْ

Duh gusti kulo nyuwun ngapuro
Sekathahe duso kulo…
Lan dosane tiang sepah kalih kulo
Lan dosane guru(guru) kulo
Lan dosane tiang islam lanang wadon
Lan dosane mukmin lanang lan mukmin wadon
وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا ...وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّا مِنَ الْخَاسِرِينْ

وَارْ حَمْهُمَا .. وَارْ حَمْهُمَا ..كَمَا رَبَيَانِيْ صَغِيْرَا
Ya Alloh kulo nyuwun ngapuro
Sekathahe duso kulo…
Lan dosane bapak ibu kulo
Ugi umat islam sedoyo 2x

يَا حَيُّ يَا قَيُّومْ.. لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ
سُبْحَانَكَ إِنِّيْ ..سُبْحَانَكَ إِنِّيْ كُنْتُ مِنَ الظّاَلِمِينْ
وَأَعُوْذُبِكَ مِنَ النَّارْ..أَللَّهُـمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ. .
تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّيْ..
تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّيْ يَا كَرِيمْ..
Duh gusti alloh kulo nyuwun dipun ngapunten
Sekathahe duso kulo enjang sonten
Menawi mboten ya Alloh dipun ngapunten
Ingkang bade paring maghfiroh puniko sinten
بِرَحْمَتِكَ الْوَاسِعَةْ ..يَا حَيُّ يَا قَيُّومْ .. يَاغَفَّارالذُّنُوبْ..
يَاذَا الْجَلالِ وَالْأِكْرَامْ.. آمِتْنَا عَلى الدِّيْنِ الْإِسْلاَمْ
وَآلِهِ وَصَحْبِهِ... وَسَلِّمْ عَلىَ دَوَامْ
لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهْ...أَلْمَلِكُ الْحَقُّ الْمُبِينْ
مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللَّهْ...صَادِقُ الْوَعْدِ الْآمِينْ

Duh gusti Duh gusti paring rohmat kesahenan
kesahenan wonten ing dunyo
Keslametan wonten akherat.. [ubd]

Duh gusti Alloh mugi nyiram kulo
Kelawan udan ingkang nylametaken
إِسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّاراَ
يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَاراَ
وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَّبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَّيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَاراَ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيا حَسَنةْ وَفِي الآخِرَةِ حَسَنةً وَّقِنَا عَذَابَ النَّارْ
مِنَ الْعَدَامْ وَإِلىَ الْوُجُودْ.. ثُمَّ الْعَدَامْ بَعْدَ الْوُجُودْ
صَلاَةُ اللَّهْ سَلاَمُ اللَّهْ عَلىَ طَهَ رَسُوْلِ اللَّهْ
صَلاَةُ اللَّهْ سَلاَمُ اللَّهْ عَلىَ يَس~ حَبِيْبِ اللَّهْ
Aku biyen ora ono
Lan Saiki dadi ono
Besok meneh ora ono
Podho bali maring Rahmatulloh
Rasane wong ning suwargo
widodari Patang puluh loro
Kasur babut mendhut-mendut
Rasane wong ning neroko
Klabang geni Ulo geni
Rantai geni Godho geni
Cawisane wong kang dosa
Gumampang dawuh pengeran
Ojo gumampang
Tinggal sembahyang
أَللَّهُـمَّ بَارِكْ لَنَا فِى رَجَبَ وَشَعْبَانَ ..
أَللَّهُـمَّ بَارِكْ لَنَا وَبَلِّـغْنَا رَمَضَانَ
أَللَّهُـمَّ بَارِكْ لَنَا وَبَلِّـغْنَا رَمَضَانَ
Yalloh gusti kito nyuwun berkahipun wulan rojab
Yalloh gusti kito nyuwun berkahipun wulan sa'ban
Yalloh gusti kito nyuwun berkahipun wulan romadhon
Yalloh gusti kito nyuwun menangi wulan romadhon
مَرْحَبًا شَهْرُالْعِبَادَةْ.. مَرْحَبًايَا خَيْرَ خَلْقِ اللَّهْ
عَالِمُ سِرٍّ وَّأَخْفَى .. مُسْتَجِيْبُ الدَّعَوَاتِ
رَبِّ فَارْ حَمْنَا جَمِيْعَا.. وَامْحُ عَنَّا السَّيِّئاَتِ
رَبِّ فَارْ حَمْنَا جَمِيْعَا.. بِجَمِيْـعِ الصَّالِحَاتِ

رَبِّ لَقَدْ حَازَالْمُنَا مَنْ هُوَ أَحْيَى شَهْرَنَا
فِيْهِ لَيْلَةُ قَدْرِنَا رَبِّ آتِـيْهَا إيّاَ نَا
فِيْ قَدْ عَلَى ثَوَابَنَا ثَوَابَ اَلْفِ شَهْرَنَا
بِالَّذِيْ يُجِيْبُ بِنَا فِى عَظِيْمِ سَيِّدِنَا
سَيِّدِنَا أَحْمَدِنَا صَلَّى عَلَيْهِ رَبُّنَا
Qito Syukur mring pengeran datenge wulan romadhon
Bejo sekabehe insan kang miturut dedawuhan
Sampun nampeni ganjaran laelatul qodri minna syahr peparingan mring ganjaran lir ganjaran sewu wulan
Duh gusti mugi kasihan welasan mring abdi Tuan
Mring agunge kasih Tuan jeng Muhammad kang –pungkasan.
وَالْآلِ وَالْأَصْحَابِ مَنْ قَدْ وَحَّدَ..
وَالْآلِ وَالْأَصْحَابِ مَنْ قَدْ وَحَّدَ..
Eman eman temen wong bagus ora sembayang
Eman eman temen wong bagus ora sembayang
Nabi yusuf luwih bagus yo sembayang 2x
Eman eman temen wong ayu ora sembayang
Eman eman temen wong ayu ora sembayang
Siti Fatimah luwih ayu yo sembayang 2x
Urip neng alam ndunyo ora sa'lawase
Koyo wong lelungan ono dalan mampir ngombe
Omah gedung suwargo kanggo wong kang podo iman
Utawa neroko kanggo wong kang nurut setan

Do elingo iki zamane wis tuwo
Tuntunan agomo do dianggep kuno
Lakonono ajarane wali songo
Sing ra kerso ojo nyacad ojo ngino
Umpamane koyo sunan kali jogo
Pituture mlebu ati ora kroso
Tuntunan Agomo biso di amalno
وَآلِهِ وَصَحْبِهِ... وَسَلِّمْ عَلىَ دَوَامْ
Ono gajah mangani roti
Ono pitik mangan krupuk
Mujahadah nentremke ati
Nyatane ratahu umuk
صَلاَةُ اللَّهْ سَلاَمُ اللَّهْ عَلىَ يَس~ حَبِيْبِ اللَّهْ
Eling-eling siro manungso
Temenono anggonmu ngaji
mumpung durung ketekanan
Malaikat juru pati
Cawisane wongkang duroko
Wongkang mampang dawuh pangeran
Gumampang dawuh pangeran
Sdoyo dulur mumpung isih waras
Ayo ngibadah sartane ikhlas
Tuwo enom podo mikiro
Jeneng manungso mesti le loro
Gawe sangu besuk yen mati
Perkoro repot kudu den bagi
Godhane setan ojo dituruti
Marang anake den wulang ngaji
Yen raiso pasrah mbah kyai
Supoyo mbesuk biso manfangati
صَلاَةُ اللَّهْ سَلاَمُ اللَّهْ عَلىَ يَس~ حَبِيْبِ اللَّهْ
Sandangane diganti putih
Mertanda'no raiso mulih, raiso mulih
Tumpakane kereto jowo
rodo papat rupo menungso
فَهَبْ لِىْ تَوْبَةً وَّاغْفِرْذُنُوْبِ.. فَاِنَّكَ غَافِرُ الذَّنْبِ الْعَظِيْمِ
Dene wanita papat kang mlebu surgo
Ya iku wong wadon kang bisa ngereksa
Maring awake saka nglakoni dosa
Lan ta'at maring Allah Kang Maha Kuasa
Ngatasi perkara kanti dada jembar
Ora gampang mindakake morang-maring
Kaya nuding-nuding Ian mecahi piring
صَلاَةُ اللَّهْ سَلاَمُ اللَّهْ عَلىَ يَس~ حَبِيْبِ اللَّهْ
Repote dadi wong dagang
Sholate digawe gampang
Opo maneh dagangane laris
Durung sholat ngakune uwis
Sholate sa wayah-wayah
Opo maneh wayahe panen
Sholate ora tau kopen
وَآلِهِ وَصَحْبِهِ... وَسَلِّمْ عَلىَ دَوَامْ
Wajib anak neng wong tuwo
Kudu nganggo toto kromo
Tindak tanduk kang prayogo
Una uni ojo sembrono
Saben sore mangkat ngaji
Lamon siro ora ngaji
Nganti tuwo ora ngerti

وَآلِهِ وَصَحْبِهِ... وَسَلِّمْ عَلىَ دَوَامْ
Wong Islam kang menangi
Surupe wulan romadhon
Kewajiban zakat fitrah
Patang mud bahan pikuat

مُحَمَّدٌ رَّسُوْلُ اللَّهْ... صَادِقُ الْوَعْدِ الْاَمِينْ
Lamon kuoso lungo haji
Ojo lali sing dinafkahi
Kaji iku cukup mung siji
Maslahat tonggo jo nganti lali

وَالْآلِ وَالْأَصْحَابِ مَنْ قَدْ وَحَّدَ..
وَالْآلِ وَالْأَصْحَابِ مَنْ قَدْ وَحَّدَ..
Saben malem jum'ah ahli qubur tilik omah
Saben malem jum'ah ahli qubur tilik omah
Perlu nyuwun ayat qur'an sa' kalimah
Lamun ora diwenehi banjur bali karo mrebes mili
Bali meng kuburan nyunggi tangan karo tetangisan
[dibawah ini umumnya tidak dibaca]
[Duh anak putuku ojo lali karo aku
Ora ngrumangsani podo mangan tinggalanku
Ora ngrumangsani podo mangan tinggalanku]
Ngaji iku sangune mati
Wong mati iku banget larane
Sebab nyawane ilang saking awake ..... 2x
Lan ngakeh-akehi maca Sholawat
Sholawat maring Nabi Muhammad
Sebab ngajeng-ngajeng angsal safaat .. 2x'
Pinaringan umur berkah
Kangge ibadah kanti ta'at
Lan nebihi laku maksiat .. 2x
Para sedulur mangertenana
Yen ing alam kubur bakal ana
Ana pitakonan nem perkara
Kudu bisa'a anjawab sira
Sapa iku kanjeng Nabi Niro ?
Enggal njawabpa kelawan cetho
Yen Nabi Muhammad nabi kula
Kiblat ira ya iku apa ?
Ka'batullah iku kiblat kula
Kaya mengkono njawabpa sira
Ya sapa Iku sedulu iro ?
Kaum muslimin uga muslimat
Ya iku kabeh sedulur ira
مِنَ السَّمَاءِ مَاءً مِدْرَارَا ×2
Gusti kulo nyuwun udan ingkang deres
Gusti kulo nyuwun udan ingkang deres
Supoyo bumi teles supoyo pikiran anyes
Supoyo bumi teles supoyo pikiran anyes
عَدَدَ مَا فِى عِلْمِ ا للَّهِ صَلاَةً ..، دَائِمَةً بِدَوَامِ مُلْكِ اللَّهِ..
Ngamal iro anekseni tahun wulan
Lawas-lawas siro bakal ketimbalan
Mring ayunaning Alloh Ambal-ambalan
Ojo demen rambut dowo ireng dadi
Mbesuk tuwo uwan mumpluk koyo medi
Menyang langgar menyang mesjid podo ngaji
Sapuh anem mboten dipun wiji-wiji

وَاعْمَلْ لِآخِرَتِكَ كَأَنَّكَ تَمُوْتُ غَدًا
صَلِّ وَ وَسَلِّمْ دَائِمًا عَلَى احْمَدَ...
وَالْآلِ وَالْأَصْحَابِ مَنْ قَدْ وَحَّدَ..
وَالْآلِ وَالْأَصْحَابِ مَنْ قَدْ وَحَّدَ..
Ojo dumeh pinter banjur do keminter 2x
Pinter yen ora bener uripe bakal keblinger 2x
Bondo iku mung nyilih mbesuk bakale mulih 2x
وَآلِهِ الْمُقَرَّبِينْ ... وَصَحْبِهِ اَجْمَعِينْ
فَهَبْ لِىْ تَوْبَةً وَّاغْفِرْذُنُوْبِ.. فَاِنَّكَ غَافِرُ الذَّنْبِ الْعَظِيْمِ
ذُنُوْبِيْ مِثْلُ أَعْدَادِ الرِّمَـالِ فَهَبْ لِيْ تَوْبَةً يَا ذَالْجَلاَلِ
وَعُمِرِيْ نَاقِصٌ فِيْ كُلِّ يَوْمٍ وَذَنْبِيْ زَائِدٌكَيْفَ احْتِمَالِ
Duh gusti kulo sanes ahli suwargo
Nanging kulo mboten kiyat wonten neroko
Mugi gusti kerso amaringi taubat
Lan ngapuro dosa lampah ingkang lepat
قِيَامُهُ بِنَفْسِهِ – وَحْدَانِيَةْ قُدْرَةْ اِرَادَةْ عِلْمُ حَيَّةْ
سَمَعْ بَصَرْ كَلاَمْ – قَا دِرًا مُوْرِدًا عَالِمًاحَيًّا سَامِعًا
بَصِيْرًا مُتَكَلِّمًا
Rongpuluh sifat wajibe Alloh
Sifat mukhale ugo rongpuluh
Sifat wenange iku siji
عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ وَرَسُوْلُكَ النَّبِيِّ الْاُ مِّيِّ.
Kembang Sholawat
Pentil Zdikir wohe Puji-pujian
Ya Alloh .. Amin Amin
ya Alloh Robbal 'aalamin
عَدَ..دَ.. مَا فِى عِلْ..مِ ا للَّهِ ..صَلاَةً دَائِمَ..ةً بِ..دَ..وَامِ ..مُلْ..كِ اللَّهِ..
لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِا للَّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمْ. اَللَّهُـمَّ لاَ مَانِعَ لِمَا اَعْطَيْتَ وَلاَ مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ وَلاَ هَادِيَ لِمَا اَضْلَلْتَ وَلاَ مُبَدِّلَ لِمَا حَكَمْتَ وَلاَ رَادَّ لِمَا قَضَيْتَ وَلاَ يَنْفَعُ ذَالْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ- اَللَّهُـمَّ.. صَلِّ وَسَلِّمْ عَلىَ..سَيِّدِنَامُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ النَّبِيِّ الْاُ مِّيِّ.. وَ عَلىَ آلِهِ وَصَحْبِهِ وَبَارِكْ وَسَلِّمْ.
Ojo siro banget-banget
Nggonmu bungah ono ndonyo
Malaikat juru pati
lirak-lirik maring siro
Nggone nglirik Malaikat
Arep njabut nyowo siro
Yen wes teko titi mongso
Kudu budal ra keno semoyo
Larane sekarat pati
Sewu loro dadi siji
Mergo urip podo lali
Maring tuntunan Agami
Ninggal Sholat ninggal ngaji
Mong ma`siat seng dilakuni
Mulo urip seng ati-ati
Tembe mburi ben ora rugi
Sopo wonge gelem iman,
Taat miring dawuh Pengeran
Uripe tukun semahyang
Ora lali nderes Al-Qur`an
Rino wengi seneng wiridan
Amal sunnah dadi pakulan
Lamun mati sekarate –gampang.
Ora kroso babar pisan.
Tombo ati iku ono limang perkoro
Kaping pisan moco Qur'an sak manane
Kaping pindho sholat wengi lakonono
Kaping telu wong kang sholeh kumpulono
Kaping papat weteng siro ingkang luwe
Kaping limo dzikir wengi ingkang suwe
Salah sawijine sopo biso anglakoni
Insya Alloh gusti pengeran ngijabahi

Mumpung urip ning alam donya,
Mbok ya padha-padha èlinga,
Limang wektu ndang lakonana.
Èlingana yèn wayah panggilan,
Yèn wis budhal (o)ra kena wakilan,
Disalini nganggo kain putih,
Yèn wis budhal ora bisa mulih.
Tumpakané Kerèta Jawa,
Rodha papat rupa manungsa,
Jujugané omah guwa,
Tanpa bantal tanpa k(e)lasa.
Omahé (o)ra ana lawangé,
Turu dhéwé (o)ra ana kancané.
Nyawané wis m(e)layang,
Ragané kecemplung juglang,
Ditutupi anjang-anjang,
Diurug disawur kembang.
Tangga-tangga padha nyawang,
Padha nangis kaya wong nembang,
Getun temen ngungun temen
Ngumur siji ora guno
Sebab riya kelawan dengki
Ora Ngabekti kang Moho suci
Gede banget ganjarane
Wong ngibadah netepi jamaah
Karo lungguh nunggu imame
Puji lan dzikir ing panggonane
Eling-eling siro manungso
Sadurung mati Podho tobato
Tobat sakwise mati ojo
Krono ora bakal den tompo
سَيِّدِنَا مُحَمَّدْ . وَ عَلىَ آلِ مُحَمَّدْ ... x...
وَسَلِّمْ اَللَّهْـ- ـهُـمَّ صَـــلِّ عَلىَ مُحَمَّدْ ..يَا ذَالْجَلاَلِ وَاْلإِكْرَمْ.. مِتْنَا عَلىَ دِيْنِ اْلإِسْلاَمْ.. صَـــلَّ اللَّهُ عَلىَ الْهَادِىْ
صَـــلَّ اللَّهُ عَلىَ الْهَادِىْ مُحَمَّدْ.. شَفِيْعِ الْخَلْقِ فِىْ يَوْمِ الْقِيَامَةْ
وَالْآلِ وَالْأَصْحَابِ مَنْ قَدْ وَحَّدَ x 2
مُحَمَّدٌ بَشَارٌ لاَّ كَالْبَشَرِ x 2
بَلْ هُوَ كَالْيَقُوْتِ بَيْنَ الْحَجَرِ x 2
اَللَّهُـمَّ إهْدِنَا صِرَاطَ الْمُسْتَقِيمْ x 2
صِرَاطَ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينْ x 2

صَلَّ اللَّهُ رَبُّنَا عَلَى النُّوْرِ الْمُبِينْ
اَحْمَدَالْمُصْطَفَى سَيِّدِ الْمُرْسَلِينْ
وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينْ
اِسْتَجِبْ لَنَا - رَبَّ الْعَالَمِينْ
Mugi mugiyo den sembadani
Panyewun kulo dateng ilahi
Sluku-sluku bathok
Bathoke ela-elo
Si Rama menyang Solo
Oleh-olehe payung mutho
Pak jenthit lolo lo bah,
Yen obah medeni bocah
Yen urip golekko dhuwit
Lir ilir lir ilir tanduré wis sumilir
Tak ijo royo – royo taksengguh temantèn anyar
Bocah angon bocah angon pènèkna blimbing kuwi
Lunyu – lunyu pènèkna kanggo mbasuh dodotira
Dodotira dodotira kumitir bedhahing pinggir
Dondomona jlumatana kanggo séba mengko soré
Mumpung padhang rembulané
Mumpung jembar kalangané
Ya suraka surak horé
Lagu ini konon kabarnya merupakan ciptaan sunan Kalijaga, ada juga yang berpendapat hasil karya sunan Bonang, lirik tembang atau lagu ini dulunya diciptakan untuk mediasi dan wahana dakwah Islam oléh para Walisanga, pendekatan budaya seperti ini dilakukan karena masyarakat Jawa kala itu masih kuat dengan tradisi Hindu. Maka untuk menyampaikan ajaran Islam di tengah – tengah masyarakat Jawa, maka dirasa perlu untuk mendekatinya melalui budaya salah satunya adalah melalui bahasa Jawa itu sendiri. Sebenarnya yang ingin disampaikan dalam lirik lagu tersebut adalah ;
1. Memberitahukan bahwa adanya kabar baik, yang sumilir seperti tunas padi dipematang sawah, sebuah harapan baru.
2. Yang terlihat begitu memikat indah, yang layak untuk disongsong selayaknya pengantin baru (datangnya wahyu ilahi) melalui nabi Muhammad.
3. Bocah angon sebagai analogi dan perumpamaan hati para manusia itu sendiri.
4. Selicin dan sesusah apapun hendaknya ikut memanjat (meraih) blimbing memiliki lima sisi yang menggambarkan 5 rukun Islam. Untuk membasuh dan sarana penyucian diri dari segala dosa.
5. Karena pakaian (akhlak) manusia sudah mulai compang camping tidak karuan.
6. Oleh karena itu hendaknya disucikan dan dibersihkan dengan Sahadat, Salat, Puasa, Zakat dan Haji, yang intinya mengajak manusia untuk ber ISLAM.
7. Mumpung masih ada kesempatan, mumpung hayat masih dikandung badan ayo beramai – ramai menerima ajaran ISLAM.
Secara garis besar bisa ditarik kesimpulan begini :
Lirik ini mengabarkan dan mengajak kepada masyarakat Jawa tentang berita gembira telah datangnya nabi terakhir yaitu Muhammad dangan membawa ajaran tauhid ISLAM, yang siapapun berhak dan bisa mengimaninya tanpa ada perbedaan kasta, kedudukan, kekayaan, karena dalam Islam setiap manusia sama di hadapan Allah hanya ketaqwaan lah yang membedakannya, selagi manusia masih bernafas maka pintu hidayah dan pintu tobat akan selalu terbuka.
Cublak-cublak Suweng
Suwenge ting gelenter
Mambu ketundung gudel
Pak empo lirak-lirik
sapa mau sing ndelekke
sir sir pong
dele gosong
sir-sir pong
dele gosong
Gotri alagotri
Gotrine nogosari
Riwul awul-awul rokok bentul
Dolan awan-awan
ndelo' penganten
Tenong tebok, bokok kodok lagi ndekem
Jamimur jamimur
Laorio-laorio
Jamurane jamur opo
Ndi ndas…. Ndi buntut ..x…
Ndi ndas…. Ndi buntut ..x…
Sogok empling-mpling
Monine ting nggelinting
Sogok emplong-mplong
Monine ting nggelompong
Cirbong keong mata kancil medodong
Cing caripit
Buntut kucing gejepit

Asmane wall sanga ingkang mashur 2x
Maulana Malik Ibrahim syeh Maghribi
Iya iku Sunan Gresik aja lali
Sunan Giri asma Raden Ainul-Yakin .... 2x
Syeh Ja'far Shadiq ya iku Sunan* kudus
Da'wah agama kanti niat kang Lulus
Gigih berjuang ngusir penjajah .... 2x
Kang kasebut iki mashur Wali Sanga
Perintis dakwah Islam ing tanah Jawa
#sumber : http://pustaka.islamnet.web.id/