29 Maret 2026

dalamnya makna alquran



 Kata kasabat & iktasabat pada Qs. Al-Baqarah: 286 sama-sama diterjemahkan "yang diusahakannya". Namun makna sebenarnya kedua kata ini memiliki makna yang berbeda yang tidak mampu diterjemahkan dalam kosa kata bahasa Indonesia. Bukti bahwa terjemahan tidak mampu mewakili dalamnya makna bahasa asli Al-Quran, dan alasan kenapa Al-Quran harus berbahasa aslinya (Arab). Wujud dari keindahan dan keajaiban bahasa Al-Quran.


📌untuk memahami ini ada kaidah yang harus diingat bahwa: ziyadatul mabna tadullu 'ala ziyadatil ma'na,  (Bertambahnya struktur bangunan sebuah kata pasti menunjukkan bertambahnya porsi makna.) Salah satu makna dari penambahan huruf pada sebuah kata kerja dasar yang aslinya hanya tiga huruf (الثلاثي المجرد) menjadi lebih panjang adalah takalluf (التكلف). Secara sederhana, takalluf bermakna memaksakan diri, memikul beban, terasa berat, dan susah.


Lihat detail ayat ini:


لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ

"Baginya pahala atas kebaikan yang diusahakannya (kasaba), dan atasnya siksa dari keburukan yang diusahakannya (iktasaba)." (QS. Al-Baqarah [2]: 286).


Kata kasabat & iktasabat pada Qs. Al-Baqarah: 286 sama-sama diterjemahkan "yang diusahakannya". Namun makna sebenarnya kedua kata ini memiliki makna yang berbeda!


👉 Kata kasabat (كَسَبَتْ) menggunakan pola Fa'ala (kata yang tersusun dari 3 huruf): Pola kata yang konteks sifatnya ringan untuk diucapkan maupun dilakukan.


👉 Kata iktasabat (اكْتَسَبَتْ) menggunakan pola Ifta'ala (kata yang ketambahan huruf): Pola kata yang konteks sifatnya berat, memaksa, sulit, dan menyusahkan (takalluf).


Sehingga walaupun kata kasabat & iktasabat pada ayat ini sama-sama diterjemahkan "yang diusahakannya". Namun untuk kata kasabat (كَسَبَتْ) konteksnya usaha perbuatan baik digambarkan dengan nuansa ringan menggunakan pola kata fa'ala. Dan untuk kata iktasabat (اكْتَسَبَتْ) maka usaha perbuatan buruk digambarkan dengan nuansa berat menggunakan pola kata ifta'ala.


Nah, jiika akar katanya sama (keduanya dari akar kata:  كسب), kenapa usaha kebaikan digambarkan ringan. Namun usaha keburukan digambarkan dengan nuansa berat? Inilah keindahan cara Al-Quran berkomunikasi. 👇


Para ulama tafsir menjelaskan bahwa pada dasarnya, kebaikan itu sangat selaras dengan fitrah penciptaan manusia. Melakukan kebaikan itu alami, ringan, dan menenangkan jiwa tanpa perlu ada pergolakan batin. Sedangkan keburukan itu bertentangan dengan desain asli hati nurani kita. Untuk berbuat jahat, seseorang harus bersusah payah melawan nuraninya sendiri, memikirkan siasat, hingga menepis bisikan kebaikan. Ada beban mental dan takalluf di sana. Walaupun kedua kata ini memiliki terjemah yang sama, namun contoh ini membuktikan bagaimana terjemahan tidak mampu mewakili kedalaman makna dari teks aslinya.


Pengen mendalami keindahan dan keajaiban bahasa Al-Quran lainnya? download ebook 500an halamannya disini


https://lynk.id/zulfanafdhilla/330kjl1lqgr3

https://lynk.id/zulfanafdhilla/330kjl1lqgr3


Ditulis berdasarkan video youtube & tulisan karya Dr. Fadhil Shalih As-Samarra`i. Pakar ilmu bahasa Arab yang mempopulerkan Tafsir Bayaniyah terhadap bahasa Al-Quran sebagai bentuk 'ijaz lughawi Al-Quran (mujizat bahasa Al-Quran).


[Jika linknya gabisa dibuka, copy linknya dan paste ke browser/chrome]

Previous Post
Next Post

post written by:

0 $type={blogger}: