Gus Mik Kamanungsan, Sebuah Kisah di Watu Congol Kita ini, kalau ngomongin dunia pesantren, seringnya terkesima dengan cerita-cerita yang serba “wah”, penuh karomah yang bisa bikin kita menghela napas sambil geleng-geleng kepala. Tapi, namanya juga dunia orang-orang khumul (sederhana, tidak menonjolkan diri), kadang keajaiban itu disajikan dengan bumbu guyonan dan "kecelakaan" kecil yang justru lebih mengena di hati. Ambil contoh kisah yang satu ini.
Alkisah, ada seorang santri muda yang kelak kita kenal sebagai Gus Mik Ploso. Beliau ini, sewaktu mondok (menuntut ilmu di pesantren) di Pondok Pesantren Watu Congol, Magelang yang di asuh Mbah kyai Dalhar, sosok alim, allaamah, Ahli sholawat, istiqamah menjalankan Thariqah ta’lim wa ta’allum (jalan belajar-mengajar), dan juga mursyid (pembimbing) Tarekat Syadziliyyah.
Bayangkan, hidupnya sederhana, ahli wirid, dan selalu dalam koridor ilmu. Lha, santri-nya, yang bernama Gus Mik muda, punya kebiasaan yang sedikit... nyentrik. Kalau malam tiba, bukannya sibuk muthala’ah (mengulang pelajaran), Gus Mik ini lebih suka melekan (begadang) sambil main kartu (tapi katanya tanpa taruhan, lho!) dan catur. Namanya juga anak muda, kan? Petaka di Kolam Mandi kenyentrikan Gus Mik tidak berhenti di situ, Suatu saat para santri di Watu Congol geger. Mereka menyaksikan Gus Mik berjalan tenang menapak di atas air kolam yang biasa digunakan santri untuk mandi. Kolam, lho, bukan danau atau sungai yang luas. Kolam mandi. Santri-santri bisik-bisik, "Wah, keranat ! Hebat Gus Mik!" Tentu saja, cerita ini segera sampai ke telinga Mbah Kyai Dalhar.
Kita tahu, Kyai-Kyai zaman dulu itu tipenya khumul total. Karomah itu urusan Allah, bukan untuk dipamerkan apalagi dijadikan bahan jualan. Mereka takut betul dengan virus ujub (bangga diri) dan pamer yang bisa merusak kebersihan hati. Puncaknya terjadi suatu hari.
Ketika Gus Mik sedang asyik berjalan di atas air kolam, seolah itu cuma lantai ubin, beliau kepergok langsung oleh Mbah Kyai Dalhar. Mbah Kyai tidak marah-marah apalagi menghardik. Beliau hanya menunjuk ke arah Gus Mik yang sedang ‘berjalan’ di air, lalu beliau dawuh dengan nada yang lembut sekali:
"Awas, hati-hati, bisa tenggelam lho, Gus..." Dan apa yang terjadi? Deg, Gus Mik benar-benar tenggelam. Amblas ke dalam kolam! Untungnya, Gus Mik ini sudah terbiasa berenang di Sungai Brantas sejak kecil, jadi kecelakaan kecil ini hanya berakhir dengan basah kuyup.
Tapi, ada yang lebih penting dari sekadar basah. Sejak saat itu, konon, Gus Mik tidak bisa lagi 'berjalan' menapakkan kakinya di atas air. Hikmah dari Sebuah "Kecelakaan" Coba kita renungkan. mbah Yai dalhar hanya perlu mengucapkan satu kalimat lembut untuk 'menghilangkan' sebuah keistimewaan. Bukan dengan marah, bukan dengan ancaman, melainkan dengan perhatian yang tulus, pehuh welas asih. Ini merupakan bukti dakwah bil-hikmah yang di lakukan Kiai-Kiai Nusantara tempo dulu.
Mereka tidak suka menampakkan keistimewaan. Mereka juga tidak suka santri-santrinya pamer karomah atau kesaktian. Sebab, keajaiban itu hanyalah ujian. Keajaiban itu bisa menjerumuskan pada sifat ujub (berbangga diri) dan sombong (merasa lebih dari yang lain).
Mbah Kiai Dalhar seolah berkata: Kehebatan hakiki seorang santri itu bukan pada bisa berjalan di atas air, Gus ! Kehebatan itu pada keistiqomahan mengaji dan menjalankan syariat, pada kesederhanaanmu, dan pada kebersihan hatimu !
Kalau kata Gus Dur mungkin begini:
"Lha, untuk apa bisa jalan di atas air? Nanti kalau ada jembatan, malah repot. Mending jalan di darat, bisa sambil ngopi."
Dan tentu saja, setelah insiden 'tenggelam' itu, Gus Miek mungkin berpikir, Ah, ma in catur dan kartu jauh lebih aman.
Wallahu a'lam.

0 $type={blogger}: